Enny Arrow: Pejuang Perkelaminan Bangsa
Enny Arrow: Pejuang Perkelaminan Bangsa
Enny Arrow adalah fenomena rusuh. Lebih spesifik lagi; rusuh seks. Rusuh seks atau seks rusuh? Complicated. Jika di dunia sepakbola ada bonek atau aremania, ini lebih rusuh dari itu. Apalagi dibanding pendemo profesional, atau kaum haters yang belum juga bisa move on.
Jagat Enny Arrow adalah jagat pinggiran, di seputar Pasar Senen dan Pasar Baru, Jakarta, pada penerbit lapakan. Benar-benar hanya berdagang buku dengan satu lapak meja. Buku siapa? Buku yang mereka terbitin sendiri, cetak sendiri, meski tentu penulisnya bukan mereka. Persis seperti para penerbit komik di Los Mini Topsy (Pasar Baru). Cara jual beli naskah, novel atau komik, benar-benar dengan transaksi amat biasa. Pembelinya, para taoke toko buku itu, tak perlu melihat atau membacanya.
Sebuah naskah novel dari nama yang tidak terkenal, pada tahun 1980an, bisa hanya ditawar antara 10.000 s.d 20.000 rupiah. Untuk penulis novel, bukan hanya judul, bahkan nama pengarangnya pun bisa diganti. Apakah Anda tak pernah menduga, jika Puthut EA pernah menulis novel gituan, dan nama yang ditabalkan atas buku ceritanya itu menjadi Enny Arrow? Jika tak pernah, cobalah menduga sesekali.
Itulah fenomena novel seks atau cerita stensilan (padahal dicetak handpress) jaman itu, dalam hampir tiga dekade 1970-1990. Zaman sebelum internet dan era digital merangseks (artinya = merangkul seks).
Soal riwayat hidup Enny Arrow sumbernya masih simpang-siur. Ada yang mengatakan, Abdullah Harahap (penulis novel-novel horor sezaman Motinggo Boesje) konon tahu persis Enny Arrow adalah nama samaran penulis lelaki, dan masih hidup hingga sekarang. Siapa? Sialnya, Abdullah Harahap sudah almarhum, sehingga tak bisa dikonfirmasi.
Konon Enny Arrow dulu ‘hanyalah’ pekerja di toko usaha tukang jahit bernama ‘Arrow’ di Kalimalang, Jakarta Timur. Entah karena suntuk kerja atau tidak, ia menulis novel pertama pada 1965. Judulnya agak seram juga; Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta. Judul yang oleh para communistofobi akan dituding kiri. Nama Arrow di belakang nama aslinya, Enny (Sukaesih Probowidagdo) memang diambilkan dari nama tempatnya bekerja waktu itu.
Entah berhubungan atau tidak, antara novel yang berjudul kekiri-kirian dengan situasi zamannya (pecah peristiwa 30 September 1965), pada akhir tahun itu Enny Arrow kabur ke Filipina, untuk kemudian ke Hong Kong, dan akhirnya ke Seattle, Amerika Serikat, April 1967.
Di Amerika Serikat, Enny Arrow belajar penulisan kreatif bergaya Steinbeck dan setelah menemukan iramanya, Enny Arrow mencoba menulis untuk beberapa koran terkenal AS. Salah satu yang dimuat, novel (cerber) berjudul “Mirror Mirror”. Tahun 1974 ia kembali ke Jakarta dan bekerja di salah satu perusahaan asing sebagai copywriter atas kontrak-kontrak bisnis, Enny Arrow kembali tergoda menulis.
Dalam pertengahan dekade 70-an, nama Enny Arrow melampaui popularitas Teguh Esha dengan Ali Topan. Selama satu dekade ke depan, hingga pertengahan 80-an, Enny Arrow merajai bacaan remaja Indonesia, bersamaan dengan jaman keemasan komik-komik roman seperti Zaldy, Sim, Jan, dan seterusnya, termasuk kemudian disusul komik-komik silat Ganes TH, Man, Djair, Hans dan lain-lainnya.
Era itu, Orde Baru sedang berjualan moralitas Pancasila. Pornografi jadi musuh negara. Belum ada FPI dan sejenisnya, namun sudah ada ritual ‘gropyokan Enny Arrow’ dan membakar komik-komik roman yang dianggap meracuni moral generasi muda. Pelakunya, para penegak hukum, dan para moralis, meski belum ada Surat Edaran Kapolri Badrodin, yang waktu itu masih kanak-kanak.
Motinggo Boesje, sastrawan yang terpeleset ke novel seks pun, pada dekade 1980-an putar haluan. Masih menulis roman syahdu, tetapi dengan baluran agama. Sehingga banyak adegan di mana tokohnya bentar-bentar mandi junub, bentar-bentar mandi junub.
Enny Arrow tidak lahir pada zaman ketika yang namanya komunitas anti hegemoni belum tumbuh. Seandainya ia hidup di komunitas Salihara, dan Goenawan Mohamad tidak mengenal Ayu Utami, misalnya, bagaimana coba? Atau, misalnya lagi, Enny Arrow hidup sezaman Eka Kurniawan, sama-sama belajar John Steinbeck, apakah nasib Enny Arrow akan penuh luka, meski tidak cantik?
Pertama kali, buku-buku Enny Arrow diterbitkan oleh penerbit ‘Mawar’. Padahal, di beberapa koran dan televisi, ‘Mawar’ selalu identik dengan nama korban perkosaan. Apakah para penulis berita itu dulu penggemar Enny Arrow? Biarlah itu jadi rahasia dunia. Selebihnya, hampir semua penerbit di Pasar Senen cukup menuliskan nama Enny Arrow doang, dan itu jaminan best seller.
Mereka hanya tahu, setelah 1965 dan Mbah Soeharto tampil, dunia sosial-politik melulu milik negara. Siapa yang mengisi moral dan rohani masyarakat? Agama belum laku diperdagangkan waktu itu. Satu-satunya hanyalah hiburan pop, musik ngak-ngik-ngok, termasuk di dalamnya novel kelas stensilan dan komik-komik.
Generasi yang tumbuh pada zaman itu, menurut survei yang pernah dilakukan majalah “Men’s Health” edisi Indonesia (2003), mengungkapkan mereka (17,2% responden) adalah pembaca karya Enny Arrow, sebagai sumber pertama pengetahuan tentang seks. Para pembaca Enny Arrow itu, saat ini adalah para pembuat keputusan puncak, dalam institusi sosial politik masing-masing. Mereka berumur kisaran 40-60 tahun. Mungkin ada yang jadi menteri, anggota parlemen, atau mendirikan angkringan sebagai lifestyle.
Yang dahsyat dari Enny Arrow, mungkin juga Freddy S, Nick Carter (ini konon dari Amerika asli), nama-nama mereka menjadi nama generik. Sama seperti cerita komik anak-anak waktu itu. Ada banyak komik cerita HC Andersen, tapi sumpah mampus, pemilik nama itu sangat bisa jadi tidak tahu menahu. Bukan karyanya dijiplak, tapi namanya saja yang dipakai sebagai merek dagang dan tanpa izin, apalagi membayar copyright.
Ketika menjadi redaktur ‘Optimis’, majalah perbukuan, dan bekerja di Pengembangan Minat Baca Masyarakat (1984) Jakarta, saya mengadakan survei penerbitan pinggiran di Pasar Senen dan Pasar Baru. Buku, entah novel stensilan atau komik, pada saat itu pernah menjadi penanda zaman, bahkan mewarnai perjalanan satu generasi.
Enny Arrow adalah merek dagang, hingga periode terakhirnya, pertengahan dekade 80-90, namanya bukan mulai menyurut melainkan me-rusak (menuju rusak). Enny Arrow yang asli makin tak banyak berkarya, karena penerbit abal-abal memakai nama itu sebagai jaminan laris dari berbagai penulis lain yang bisa dibayar lebih murah.
Hingga kemudian, ia mati pada 1995.
Kisah Enny Arrow sesungguhnya tragis, tetapi ia adalah fenomena. Namanya kepenulisannya yang bisa menjadi merk dagang adalah sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh GM, Ayu Utami, Eka Kurniawan, atau siapalah. Itu sungguh sangat susah be’eng dijalankan saat ini. Karena popularitas bukan sekadar efek samping, tapi juga depan dan belakang.
Maka, ketika sebuah survei menyebut 17,2% respondennya mengaku mengetahui seks dari Enny Arrow pertama kali, mantan penjahit itu telah berjasa sebagai pejuang pendidikan seks, justru ketika masih dianggap tabu-tabunya. Padahal kata beberapa kyai di pesantren, dunia berputar karena selangkangan. Sampai Enny Arrow wafat dalam keadaan miskin, namanya sangat melegenda atas pengalaman empirik generasi bangsa. Ia pernah menjadi sebuah outlet, katarsis perkelaminan.
Kini, di era digital seperti sekarang, apakah nama Enny Arrow pudar? Justru tidak. Buku-buku Enny Arrow dalam bentuk pdf maupun e-book, mudah ditemui di internet. Bahkan regenerasi cerita model Enny Arrow, mewabah dan punya laman-laman khusus di berbagai media internet. Sepanjang manusia masih rindu berproduksi, beregenerasi, atau prokreasi, cerita-cerita lendir terus bergulir.
Sumber: Mojok.co
Share This
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Designed By Blogger Templates
Tidak ada komentar:
Posting Komentar