Yang Maha Semua Gue


Sifat apakah gerangan yang tak melekat pada Tuhan? Segalanya ada, dari yang masuk akal macam Al-Fattah (Sang Pembuka) dan Al-Razzaq (Sang Pemberi Rezeki) hingga yang tak mampu kita cerna macam “Yang Maha Semau Gue”.

Tanggal 11 Maret 2016, saya mengundang Mbah Gus Mus (K.H. A. Mustofa Bisri) mengisi pengajian di kampung Tegalsari Banguntapan. Di antara dera musim penghujan yang selalu menerkam bumi Jogja setiap jelang sore, hari Jum’at itu pun basah sejak siang hari. Sekira pukul 16.00, cuaca serentak terang, sangat benderang, sampai dini hari seusai pengajian, lalu kembali hujan. Cuaca ajaib ini sungguh tak masuk di akal, tetapi begitulah bila Tuhan menghendaki sesuatu terjadi, kun fayakun, terjadilah, sebab Dia benar-benar adalah Dzat Yang Maha Semau Gue.

Istilah ini saya adopsi dari guyonan Gus Mus yang disambut gerr tiga ribuan hadirin. Tentu saja, pangkat “Yang Maha Semau Gue” ini benar secara substansial, karena Tuhan memang selalu Yang Maha Kuasa. Apa yang musykil bagi kita sangatlah mudah bagi-Nya.

Sifat prerogatif ini semestinya memang hanya selalu menjadi milik-Nya. Privat dan absolut. Sifat ini akan tiba-tiba menjelma sangat problematis dan destruktif bila dirampas oleh manusia, siapa pun, atas nama apa pun, termasuk pekik atau caption membela Tuhan. Dan, ironisnya, situasi demikianlah kini yang sangat runyak dipanggungkan oleh mayoritas kita.

Lepas dari keragaman dogmatis yang diyakini Benar oleh setiap umatnya, kita tahu, semua agama dan keyakinan hanya sepenuhnya manashihkan kebaikan dan kemanusiaan. Segala bentuk praktik kekerasan dan keburukan adalah musuh semua agama dan keyakinan. Budha, misal, mengajarkan meditasi “kesunyian laut di dalam batin” sebagai jalan menuju Puncak Pencerahan; Kristen mengenalkan pangkat santo untuk menunjuk sosok suci; Taoisme mengajarkan jen-i –setamsil wahdlatul wujud dalam mistisisme Ibn ‘Arabi dan Cinta dalam sufisme Maulana Rumi.

Cara kita beragama kini, khususnya berislam, dengan memanggulkan sifat asali Tuhan –Yang Maha Semau Gue tadi—ke pundak kita dalam tingkatan sosial yang plural macam bangsa ini telah melesatkan berbagai masalah disharmoni yang mutlak menabrak risalah kebaikan dan kemanusiaan itu sendiri. Akhlak karimah terjungkalkan. Tawadhu’ terkuburkan. Ukhuwah terinjak-injak.

Atas nama klaim kebenaran (truth claim) yang disponsori berahi klaim keselamatan (salvation claim), lalu ditashih dengan nalar ugal-ugalan pada, misal, ayat dakwah, tertampillah postur Islam kekinian yang keras, galak, pemaksa, dan semau gue.

Penggerudukan, penyerangan, razia, pemaksaan, ditingkahi pentungan dan bahkan penumpahan darah, begitu enteng dirayakan sebagai “jalan membela agama Allah”. “Anda yang berbeda adalah sesat dan harus kami luruskan agar kembali ke jalan yang benar,” begitu bendera yang dikibarkan penuh bangga layaknya pejuang yang siap syahid dan dirindukan surga beserta 70 bidadarinya yang selalu perawan.

Jika Alqur’an saja dengan benderang menyatakan: “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”, “Jika Allah menghendaki maka seluruh manusia akan dijadikanNya satu umat”, dan “Ajaklah mereka kepada jalan Allah dengan cinta”, lantas bagaimana mungkin kita sanggup hati memanggungkan kekerasan atas nama-Nya?

Inilah perkara terbesar prilaku beragama kita hari ini. Kita kian kehilangan watak muru’ah, tawadhu’, dan tarahum dalam memaknai perbedaan akibat terlalu lahapnya mengasup risalah-risalah agama pada link-link antah berantah belaka yang tidak jelas sanad ilmunya. Jadilah kita individu-individu dangkal yang merasa dalam, selokan yang merasa lautan. Jadilah kita para si pongah. Dampak mengerikan dari arogansi manusia yang tega merampas sifat “Yang Maha Semau Gue” Tuhan itu ialah keberaniannya mengobarkan perpecahan, permusuhan, tirani mayoritas, dan seabrek luluh-lantak kemanusiaan.

Seyogianya kita senantiasa mafhum benar bahwa membela Tuhan tidaklah sama dengan memaksa orang lain sepaham dengan pandangan dan keyakinan kita. Apa yang kita yakini sebagai “jalan kebenaran Tuhan” semestinya selalu kita tempatkan hanya sebagai “satu jalan di antara ribuan jalan lainnya”.

Kita selayaknya pula selalu andap asor bahwa perihal hidayah sepenuhnya mutlak hak prerogatif Tuhan, bukan manusia. Nabi Muhammad saw. bahkan tak pernah berhasil mengislamkan Abu Lahab yang notabene adalah paman dan tetangga bersebelah tembok. Nabi Nuh as. pula tak berhasil menjadikan anaknya beriman kepada ajarannya. Nabi Ibrahim as. pun gagal menjadikan ayahnya sendiri menjadi pengikut ajarannya.

Hindun yang amat membenci Islam sampai tega membelah dada Hamzah, paman Nabi, dan memakan jantungnya dengan buas, siapa nyana kemudian memeluk Islam dan mengatakan, “Dulu aku membencimu, Nabi, seluas langit dan bumi; kini aku mencintaimu seluas langit dan bumi.” Demikian pula sosok Umar bin Khattab dan Abu Sufyan yang keras melawan Nabi lalu memeluk dan membela Islam dengan sepenuh jiwanya.

Adakah yang perlu kita ragukan dari gigihnya dakwah para nabi agung itu dan kedalaman doa-doanya sampai gagal menjadikan beriman orang-orang dekat di sekitarnya? Masih kurangkah keperkasaan tentara Nabi kala Fathul Makkah yang tak pernah ia jadikan kesempatan memaksa semua orang Quraisy Makkah memeluk Islam seketika? Lantas, apakah gerangan sebenarnya pangkat dan hak kita untuk memaksa, mengancam, menyerang, dan mementungi orang-orang yang tidak seiman atau berbeda paham?

Serentak saya teringat puisi Maulana Rumi: “Kemarin aku pintar, maka aku berupaya mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, maka aku berupaya mengubah diriku sendiri.” Saya juga teringat narasi Tao Te Ching tentang “Kebajikan Tinggi” dan “Kebajikan Rendah”, “Seorang manusia yang memiliki Kebajikan Tinggi tidak menyadari Kebajikannya. Itulah mengapa dia memiliki Kebajikan. Seorang manusia yang memiliki Kebajikan Rendah berusaha keras untuk tidak kehilangan Kebajikannya. Itulah mengapa dia tidak memiliki Kebajikan.”

Kebijaksanaan, inilah kata kuncinya; bahwa kita hanyalah manusia nisbi, bukan Tuhan Yang Serba Maha, yang sama sekali tak pernah pantas untuk memanggul sifat “Yang Maha Semau Gue” Tuhan atas nama apa pun. Tuhan saja begitu santai atas keragaman perilaku manusia, dari yang alim bagai nabi sampai durja bagai jelaga, lalu kenapa kita sebegitu repotnya?

Sumber: Jawa Pos

Continue Reading

Tere Liye Menurut Fatwa Majelis Ulama Puisi (MUP) Indonesia


Posisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara struktural memang problematik. Ia ada, tertabalkan “bagian dari pemerintah”, tetapi tak memiliki otoritas legal-formal untuk menggarasi penerapan fatwa-fatwanya. Tak ada kewajiban legal-formal bagi kita untuk menyetujui fatwa-fatwa MUI, apalagi mengamalkannya. Wujuduhu ka’adamihi, kata orang Arab, ada tapi tiada, begitulah “takdir” MUI. Tentu, saya tak berhasrat bicara apakah MUI penting atau tidak. Itu hal berbeda.

Tetapi kerap betul saya meyakini bahwa posisi problematik MUI ini sudah ideal. MUI seyogianya biarkan begitu saja. Apa pasal? Sebab fatwa-fatwa agama, termasuk karya MUI, harus senantiasa dipahami sebagai “wacana” (discourse). Dan, kita mafhum, tak ada wacana mutlak. Wacana akan selalu relatif, debatable, ikhtilaf, bahkan mungkin kontroversial.

Andai fatwa-fatwa MUI berkekuatan hukum tetap, lantas siapa pun yang melanggarnya bisa dipidana, pastilah akan meruyak kematian wacana dan pula kekacauan sosial-religius. Mengerikan, bukan?

Di jagat kesusastraan, dalam sampel kontroversi “mutu” antologi Tere Liye, Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta, kita semua mesti selalu ingat bahwa itu pure wacana. Bahwa sastra, termasuk puisi, adalah jagat wacana, sehingga bertakdir seturut relatif, debatable, bahkan kontroversial, yang justru dengan watak itu ia bisa dinamis dan progresif, mestilah selalu kita junjung mutlak. Sungguh mengerikan bila puisi Widji Thukul, misal, didoktrinkan sacred bak ayat dan hadits. Atau, novel-novel Pramoedya Ananta Toer disucikan bukan lagi wacana hanya lantaran Anda masih muda, penuh gairah, dan merasa seksi menjadi Kekiri-kirian.

Secara historis, ihwal kontroversi karya sastra di negeri ini sama sekali bukan hal baru. Sejarah Manikebu di era head to head Kanan-Kiri dulu menjadi tonggak yang tak terlupakan. Novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja pernah sangat keras polemiknya. Lalu Cerpen A.A. Navis, Robohnya Surau Kami, turut mengundang debat panjang sastra versus religiusitas.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Hamka juga demikian hebohnya. Novel Saman Ayu Utami pun pernah riuh sedemikian berisiknya. Kabar Buruk dari Langit karya Muhidin M. Dahlan juga setamsil gegernya. Puisi-puisi gelap Afrizal Malna pula pernah kepalang riuh perdebatannya. Dan, tentu, jangan amnesia sama hiruk pikuk buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang sebegitu ho-oh-nya.

Sampai di sini, mestinya tak usah canggung lagi untuk menonton, cemberut, tertawa, atau terlibat seteru perihal buku antologi Tere Liye yang terdiri dari 24 puisi dan terbit di tahun 2014 itu. Puisi-puisi Tere Liye itu adalah bagian mutlak dari “penulis telah mati ketika karyanya dilemparkan ke publik”; bagian dari, kata Paul Ricoeur, “Pembaca adalah penulis kedua, ketiga, dan seterusnya”.

Silakan baca penggalan puisi Tere Liye ini:

Hidup ini memang kadang rumit sekali
Ada begitu banyak hari esok tapi kita tidak beranjak
Terlalu banyak hari kemarin, tapi kita terus terbenam.
(“Sajak Jangan Habiskan”)

Lalu baca kutipan puisi “Ibu” karya D. Zawawi Imron ini:

Ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
Aku mengangguk meskipun kurang mengerti
Bila kasihmu ibarat samudra
Sempit lautan teduh
Tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
Tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
Lokan-lokan, mutiara, dan kembang laut semua bagiku

Silakan pula baca kutipan puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono ini:

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Dan, boleh tambahkan, kutipan puisi M. Aan Mansyur ini:

Bekas lukaku hidup seperti sisa air
terperangkap di telinga usai mandi.
Seperti gigi bungsu susah payah
tumbuh dan merobek gusi.

Halal benar bagi kita semua untuk berdebat dari sudut apa pun tentang semua sample puisi itu. Mau Anda pungkasi dengan konklusi: “Bagus, menggetarkan, dahsyat, atau busuk, sampah, abal-abal, dan menyesatkan”, itu hak setiap pembaca—dalam kapasitas apa pun. Ingat selalu prinsipnya bahwa penulis telah mati saat karyanya dibaca orang lain.

***

Saya bukanlah fans Tere Liye—sekadar kenal sebagai sahabat, layaknya saya kenal Agus Noor, Faisal Oddang, atau Seno Gumira Ajidarma. Secara personal, saya memastikan bahwa Tere Liye tergolong orang yang friendly, humoris, dan berwawasan baik.

Bahwa dia amat sangat produktif menulis novel, itu merupakan pencapaian yang menakjubkan sekaligus meresahkan. Saya pernah mengatakan bahwa saya termasuk orang yang khawatir torsi produktivitasnya akan menggerogoti kualitas karya-karyanya. Sederhana sekali argumen saya kala itu: “Karya tahun ini haruslah lebih baik dari tahun lalu. Jika terbalik, itu kiamat bagi perjalanan panjang kreativitas. Dan, produktivitas yang tak terkendali merupakan salah satu musuh terbesarnya.”

Sampai hari ini, harus saya akui bahwa produktivitas Tere Liye “baik-baik saja”. Novel terbarunya, Hujan, layak mendapat apresiasi. Seminimnya, itu indikasi bahwa novel tersebut baik-baik saja.

Maka entah bagaimana hikayatnya, tiba-tiba beranda saya dihentak hujatan-hujatan “berjuta rasanya” pada puisi-puisi Tere Liye. Mengapa antologi puisi yang terbit 2014 dan kepalang best seller melampaui statistik penjualan Melihat Api Bekerja M. Aan Mansyur dan Hujan Bulan Juni Sapardi Djoko Damono itu (apa kabar buku puisimu, Penyair?) baru hiruk lagi pikuk sekarang? Ke mana saja gerangan para periuh itu kemarin? Ada apa sebenarnya? Siapa blower-nya? Sejawat penyairkah? Meuh.

Entahlah—tak ada gunanya menghabiskan energi hanya untuk menelisik hal-hal setamsil itu.

Tetapi di balik riuh polemik antologi puisi Tere Liye itu, mari cerna beberapa hal prinsipil ini—yang baiknya menjadi bagian utuh dari “cara memandang sebuah buku”:

Pertama, sederas apa pun kritik menghantam, mari terus berkarya dengan spirit “karya tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu”. Segala perspektif sastra, dari perkara hermeneutika, stilistika, estetika, metafora, dan lain-lain, adalah selalu dan selalu discourse. Sehebat itulah novel Salju dan Namaku Merah Orhan Pamuk, hujatan tetap ramai menghentak. Sememukau apa pun Seratus Tahun Kesunyian Gabrial Garcia Marquez menggawangi realisme-magis, ia pun ditimpuki kritik pula hujatan.

Kedua, setiap pembaca adalah individu otonom yang takkan lepas dari “jaring laba-laba” rumahnya: kapasitas ilmu, pergaulan, pula tendensi. Pembaca akan berbicara tentang sebuah karya dari lanskap demikian. Pembaca, sekali lagi, adalah “penulis kedua, ketiga, dan seterusnya”.

Ketiga, karya apa pun selalu berdenyar dalam watak “like and dislike”. Boleh saja Anda memuja gaya cerita eksperimentatif Eka Kurniwan dalam novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, tetapi akan selalu ada pembaca yang geleng-geleng kepala. Sefenomenal apa pun cerpen “Pelajaran Mengarang” Seno Gumira Ajidarma, saya pernah mendengar seorang kawan berkeluh tanpa beban: “Cerpen ini sumir! Karena yang nulis SGA aja, dimuat Kompas.”

Nasib karya Tere Liye juga demikian denyarnya. Sesuka apa pun saya pada novel religinya, Hafalan Shalat Delisa, dibanding novel (mengaku) religi bertajuk Bercinta di atas Sajadah karya seseorang, tetap saja ada yang dislike. Begitupun “takdir” karya Setangkai Melati di Sayap Jibril atau Asmaraloka Danarto, Cerita Buat Para Kekasih Agus Noor, Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? Eko Triono, dan Sundari Keranjinguk Puisi Gunawan Tri Atmodjo.

Keempat, publikasi karya ke jagat khalayak, sememicing  apa pun Anda pada “pasar”, akan selalu dipusari stempel “laku/tak laku”—mau berskala mainstream, indie, atau POD. Bila Anda termasuk sastrawan yang berkarya bukan untuk apresiasi dan materi, itu hak Anda.

Tetapi tepat di sebelah Anda, jibunan sastrawan yang menguber dulangan sebaliknya sama sekali bukan hak Anda untuk melarang-larang. Melarang orang lain menulis puisi dan memublikasikannya atas nama menjaga marwah sastra yang mutlak discourse setamsil membela demokrasi dan toleransi dengan cara otoriter dan intoleran. Bukankah itu perilaku yang ho-oh sekali?

Lantaran faktanya untuk melejitkan karya secara massif ke jagat publik sangat jitu melalui mekanisme penerbitan massal, sementara penerbit mainstream selalu bernapas dengan jantung pasar, apa dalihnya mengharamkan Tere Liye untuk menerbitkan buku puisinya yang ternyata dibeli ribuan orang, yang ternyata lebih diminati kepalang luas dibanding karya Anda yang, konon, pure sastra, idealis, dan uwow?

Mengkritik sebuah karya jelas sahih saja—sekali lagi ini perlu ditandaskan. Atas dasar ilmu stilistika, estetika, semiotika, ngana-ngana, atau apa pun, lah. Tetapi, mari berbijaksana di atas kaki kecerdasan yang kita puja, bahwa (1) Semua orang, termasuk Tere Liye,  sangat berhak untuk menulis apa pun. Apa pun! (2) Tak ada hak bagi siapa pun merampas hak bebas menulis setiap orang, setajuk hak bebas menikah atau menjomblo. Level pengetahuan mestinya berbanding lurus dengan kesadaran menghargai hak orang lain.

Kepada Afrizal Malna yang puisi-puisinya pekat gulita dibebaskan, lantas kenapa kepada Tere Liye yang gemar menulis puisi-puisi benderang ala Phillip dilarang, dihujat, dibodohkan, bahkan disesatkan? Hal setamsil juga berlaku pada hak bebas penerbit menerbitkan buku apa pun dan pembeli membeli buku apa pun—toh jika sebuah penerbit kolaps gara-gara semata menerbitkan puisi-puisi yang Anda sebut “sastra” lalu tidak laku, Anda takkan pernah menghibahkan sepeser rupiah pun, kan? Pula kepada pembeli yang membeli buku mahal Tere Liye, Anda tak dirugikan secuil rupiah pun, kan?

Perkara ini aslinya sederhana sekali cara berbijaknya: jika suka, ya beli, itu pun kalau Anda masih merawat malu dengan tidak meminta gratisan atas nama persahabatan; jika tak suka, leave it!

Masak iya begitu sulit untuk sekadar memahami hal sesederhana ini, sampai-sampai Anda yang memangkati diri pembela marwah sastra dan ilmu pengetahuan terperosok ke liang hegemoni dan bahkan arogansi yang memalukan? Ataukah, Anda kepalang berahi untuk mendirikan Majelis Ulama Puisi (MUP) di Indonesia, lalu mendapat sokongan anggaran dari negara, untuk kemudian ditertawakan fatwa-fatwanya?

Pamungkasnya, saya hadiahkan sebuah puisi spektakuler karya Dek Gara ini:

AYAM

Sayapnya ada dua, tapi tak terbang
Kakinya panjang, tapi tititnya tak kelihatan
Titit ayam kalah panjang sama tititku.

Namanya ayam,
bukanlah sapi atau kambing.
Aku suka ayam
Apalagi ayam goreng

Aku sayang mama
Apalagi kalau mama membuatkanku ayam goreng.

Bagaimana pendapat Anda tentang puisi tersebut, Wahai para staf ahli Majelis Ulama Puisi (MUP) Indonesia? Halal/haramkah diterbitkan, dibeli, dan dibaca khalayak?

Meuh!

Sumber: Basabasi.co
Continue Reading

Blog-Blog Tukang Nyampah


Ada banyak cara untuk nyampah (mengirim spam), dan beberapa bloger melakukannya dengan cara mengirimkan link blog mereka ke dasbor blog orang lain.

Agan-agan mungkin pernah mendapati hal sepele tapi menjengkelkan ini. Suatu waktu, agan berkomentar di suatu blog. Umpamakan saja di blog A. Sejak itu, secara rutin atau secara berkala, agan mendapati link blog A di dasbor blog agan.

Para bloger newbie mungkin mengira kemunculan link blog A di dasbor itu sebagai trackback atau linkback dari blog A yang pernah dikomentarinya. Tetapi, sebenarnya, link itu adalah SPAM yang sengaja dikirim oleh pemilik blog A. Tujuannya agar agan selalu ingat blog A dan kembali berkomentar di blog A.

Begini cara membedakan TRACKBACK dan SPAM, gan:

Jika agan berkomentar di blog A pada postingan berjudul “Masyarakat Bloger”, misalnya, maka link blog A yang muncul di dasbor blog agan kira-kira seperti ini: www.blogA.com/Masyarakat-Bloger

Itulah TRACKBACK, yaitu link yang datang ke dasbor agan, karena ada pengunjung di blog A yang meng-klik link blog agan. Yang patut diingat, trackback hanya muncul sesekali, dan tidak akan muncul terus menerus apalagi secara teratur dalam jangka waktu lama. Apalagi jika blog A yang pernah dikomentari agan bukan blog terkenal.

Sebaliknya, link SPAM biasanya muncul di dasbor agan dalam bentuk alamat blog tanpa judul postingan. Misalnya hanya seperti ini: www.blogA.com. Jika link blog agan tidak ada di beranda (home) blog A, tapi agan sering mendapati link blog A di dasbor blog agan, maka artinya agan telah menjadi salah satu korban pengiriman link spam.

Link SPAM seperti itu biasanya muncul secara teratur di dasbor blog agan, bisa tiga hari sekali, atau lima hari sekali, atau seminggu sekali. Sekali lagi, bloger newbie tidak akan menyadari hal itu, dan mengira itu trackback dari blog A yang pernah dikomentarinya. Tapi agan-agan pasti menyadari, itu link SPAM. Sebagian bloger bahkan sampai jengkel dengan munculnya link SPAM semacam itu di dasbor mereka. Link SPAM semacam itu mungkin tidak merugikan, tapi sangat menyebalkan.

Umumnya, blog yang mengirim link SPAM semacam itu adalah blog-blog yang sepi pengunjung. Blog-blog itu sengaja mengirimkan link SPAM semacam itu, dengan tujuan agan sering-sering mengunjungi blognya. Praktek licik semacam itu dilakukan beberapa bloger untuk meramaikan blognya, biar seolah-olah blognya dikunjungi banyak orang dan banyak yang berkomentar.

Sejauh ini, ane sudah sering mendengar temen bloger yang mengeluh jengkel akibat munculnya link SPAM semacam itu di dasbor mereka. Ane sendiri punya pengalaman mengenai hal ini, menyangkut dua blog yang telah terbukti sering mengirim link SPAM. Dua blog itu adalah:

1. Darin Holic --> http://darinholic.com/

2. Donny Verdian --> http://donnyverdian.net

Dua blog itu sangat aktif mengirim link SPAM ke dasbor ane secara teratur. Jadi, kalau agan berkomentar di dua blog tersebut, hampir bisa dipastikan sejak itu dasbor blog agan sering dikirimi link blog mereka. Itu sangat menyebalkan, seolah blog mereka sangat terkenal hingga kita sering dapat trackback. Yang ada, kita jadi merasa sedang dibohongi terang-terangan.

Ane nulis trit ini tidak bermaksud apa-apa, selain ingin memberitahu agan-agan sesama bloger agar lebih cerdas dalam menyikapi aneka “penipuan” di dunia blog. Ane juga nulis ini dengan harapan para bloger yang suka nyepam di dasbor blog orang mulai menyadari kalau perbuatan mereka mengganggu ketenteraman orang lain dalam ngeblog.

Kalau agan kebetulan juga sering mendapati link SPAM di dasbor blog agan, dan agan merasa terganggu, ane bisa kasih saran gan. Laporkan saja blog-blog pengirim link SPAM itu ke Google, sebagai blog SPAM. Caranya, buka laman ini gan, lalu isikan alamat blog tukang kirim link SPAM tersebut:

https://support.google.com/blogger/contact/spam?hl=en

Selain melalui link di atas, agan juga bisa melaporkan blog tukang SPAM melalui link berikut ini:

https://docs.google.com/forms/d/1rhRenrd16MDSgAOwnMVx9KQbp--0JoY9vKiJdIcMe44/viewform

Setelah itu, Google akan menandai blog-blog tersebut sebagai blog spam. Mungkin ini kejam, tapi perbuatan mereka yang suka NYEPAM di dasbor kita juga MENJENGKELKAN dan MENYEBALKAN.

Bloger sejati tidak suka nyepam. Salam bloger.

Sumber: Kaskus

Continue Reading
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Designed By Blogger Templates