Unsur-unsur dalam Tulisan Non Fiksi

Unsur-unsur dalam Tulisan Non Fiksi


Pada dasarnya, ragam jenis tulisan non fiksi itu memiliki unsur-unsur yang sama. Iya, tentu dengan hanya sedikit sekali perbedaan antar variannya. Kisi-kisi formalnya yang berbeda.

Secara umum, passion orang dalam menulis non fiksi ialah artikel. Dan segala unsur  dalam tulisan artikel sebenarnya “mewakili” segala unsur dalam tulisan berjenis makalah, esai, feature, dan resensi.

Sebab itu, di sini, saya akan berfokus pada tulisan non fiksi berjenis artikel saja. Soal jenis-jenis lainnya macam makalah, esai, feature, dan resensi, akan saya singgung sebagai tambahan di bagian belakang untuk memperjelas kisi-kisi perbedaannya doang.
Apa itu artikel?

Tadi sudah disinggung di awal, bahwa artikel merupakan jenis tulisan ilmiah. Sebuah tulisan disebut ilmiah jika berbasis data dan analisa sistematis.

Maka, kesimpulannya, artikel ialah sebuah tulisan yang berbasis data dan dianalisis secara sistematis (runtut, logis).

Paham, ya? Iya aja deh….

Oke, lanjutkan. Sekarang kita bicara tentang struktur atau unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah tulisan artikel.

1. Ide/Topik/Tema

Apa yang ingin kau tuliskan? Itulah idenya. Ide adalah “pokok hal” atau “pokok permasalahan” yang akan kau teliti dan tuliskan. Semakin tsakep idemu, semakin kerenlah tulisanmu. Karena itu, tulislah hanya ide-ide yang tsakep. Ciri ketsakepan sebuah ide ialah “aktual, bergreget, penting, memantik rasa ingin tahu pembaca”.

Misal. Sekarang lagi ramai tentang sosok Jokowi dan Prabowo sebagai calon presiden. Apa yang ingin kau tuliskan tentang mereka?

Lalu kau munculkan ide berdasar “pokok permasalahan”.

Jokowi atau Prabowokah Sang Pembasmi Koruptor?
Modal Militer Prabowo untuk Libas Korupsi
Watak Kesederhanaan Jokowi Ditakuti Para Koruptor

Ya, itu hanya beberapa contoh. Di dalamnya, ada pokok permasalahan yang akan kau teliti dan tuliskan, yakni “presiden dan pemberantasan korupsi”.

Lain lagi dengan ide yang berbasis “pokok hal”. Ide sejenis ini tidak berbasis “masalah”, tapi bersifat pengetahuan atau motivasi.

Misalnya:

Pentingnya Tahajjud untuk Mengundang Jodohmu
Bahagia Itu Sederhana, Santai Sajalah….
Agresi Israel ke Tanah Palestina
Korupsi dalam Kacamata Islam
Saat Kodifikasi Agama Jadi Kiblat
Pacaran itu Haram atau Tidak, Ya?

Mungkin, kalian yang tsakep akan bertanya di sini, lalu apa bedanya ide dengan judul?

Sering pula ide itu disebut topik atau tema lho. Pada intinya, ia adalah hal yang ingin kau teliti dan tuliskan. Otomatis, judul pun akan sesuai dengan ide itu, bukan? *Iya aja deh….*

Tentu nggak asyik jika topikmu, temamu, idemu tentang “korupsi adalah bagian dari kekufuran”, tapi judulmu ternyata nggak mencerminkan itu sama sekali. Maka, gampangnya, judul yang kau pilih kemudian boleh sama atau berbeda dengan idemu, asalkan tetap mewakili, mencerminkan idemu.

2. Data

Setelah dapat ide, kau harus kumpulin data. Bagus lagi, ide yang akan kau tuliskan sudah kau kuasai data dan keilmuannya. Sudah mendalami dan menguasainya.
Data yang kau pilih haruslah data yang akurat. Jangan data abal-abal tidak jelas juntrungnya.

Ciri data yang akurat itu ialah ilmiah, yang bisa dibuktikan dengan memiliki sumber rujukan yang jelas. Haram hukumnya menggunakan rujukan semaca “menurut sebuah penelitian” atau “katanya” atau “konon” atau…. Harus jelas menurut siapanya.
Bukankah mendapatkan kepastian itu sangat penting? Haaaa….

Misal kau dapat data dari sebuah buku atau artikel atau situs yang terpercaya (tentang situs-situs ini bertelitilah ya, sebab banyak sekali situs yang hanya bersifat propaganda, sama sekali tidak ilmiah). Ciri lainnya ialah ia banyak dikutip atau dipakai orang.

Ciri sebuah data patut diragukan keilmiahannya ialah “sensitif konflik” (ini jangan disamain dengan istilah polemik atau ikhtilaf ya). Hari gini, jangan mudah terprovokasi oleh “ke-wah-an” sebuah tulisan yang kesannya menggelegar. Lebih baik cari saja sumber-sumber data yang kredibel, lazim, popular, dan terpercaya.

Oh ya, saya tandaskan satu hal lagi di sini, bahwa ilmiah bukan berarti lalu tidak ditentang orang lho ya (sedunia setuju gitu). Yang terpenting ialah data yang kau kutip ialah data yang jelas sumbernya dan sumber itu sendiri (usahakan) tidak diragukan kapasitasnya.

Lantas, data yang kau ambil tidak perlulah sekarung gitu. Ambil data yang kau butuhkan saja sebagai penopang keilmiahan tulisanmu.

Ada data yang disebut data primer dan sekunder. Nah, data primer inilah yang harus kau pegang. Soal data sekunder sifatnya pelengkap dan penambahan belaka.

Data primer ialah data yang berkaitan langsung dengan ide yang akan kau tuliskan dan bersifat teori atau data besar. Jika tentang korupsi di Indonesia, sebutlah itu data berdasar KPK. Data sekundernya misal tentang ketidakadilan pembangunan di Indonesia Timur.

Dalam dunia akademik, data primer yang paling dihormati ialah buku, lalu jurnal, lalu media massa, lalu sumber online. Tapi dalam tulisan artikel, peta ini lebih longgar sih.

3. Pembukaan

Setiap artikel tentu harus memiliki bagian pembukaan dulu. Ia menjadi semacam pengantar terhadap ide yang akan kau ulas. Mau sekadar satu atau dua paragraf, ia harus ada.

Bentuk pembukaan yang keren ialah merangsang pembaca untuk melanjutkan membacanya. Ya, setelah judul yang bergreget, pastikan kalimat-kalimat pembukamu juga bertaji ya. Ia bisa dikemas dalam bentuk kutipan atau pertanyaan atau “provokasi” bahkan, dll.

Misal yang berbentuk kutipan:

Nyaris separuh penghuni bumi Indonesia ini masih didera kemiskinan, dan itu merupakan buah haram korupsi. Begitulah data riset terbaru yang dikeluarkan oleh LSM Belum Sempat Korupsi Juga (2014). *contoohhhhhh….

Bentuk pertanyaan:

Mau tahu berapa juta di tahun 2014 ini anak-anak Indonesia yang tidak tersingkir dari bangku sekolah hanya karena kemiskinan? Ya, kemiskinan yang ditebar oleh tangan-tangan kejam koruptor.

Apa benar pacaran itu haram sepenuhnya, tanpa pengecualiaan sedikit pun? Apa lantas juga berarti benar bahwa semua pelaku pacaran itu adalah para muslim sesat, sebagaimana dipekikkan oleh para pengusung fiqh serba subhanallah dan anti dialog itu? *ngoaahhaa…

Bentuk “provokasi”:

Inginkah Anda menjadi satu dari jutaan orang yang berdiam diri menyaksikan pemerkosaan-pemerkosaan terus menayang di depan mata? Masihkah Anda bertahan hati untuk duduk manis menyaksikan kenyataan kian maraknya kekejaman seksual, yang sebagiannya mulai mendera anak-anak tak berdosa itu?

Ya, ya, banyak lagi contoh model lainnya. Intinya, pembukaan haruslah menarik, memikat, dan “memaksa” pembacamu untuk melanjutkan membaca tulisanmu, bukan malah melipat, angop ngantuk, lalu lelap berbantal tulisanmu. Kalau sampai terjadi yang kedua ini, pertanda tulisanmu sukses menjadi pengantar tidur.

4. Analisa sistematis

Data yang sudah kau kumpulin selanjutnya harus kau kuasai sekaitan dengan idemu tadi. Inilah proses analisa.

Analisamu haruslah berjalan secara sistematis. Runut. Jangan lompat-lompat ke sana-sini  tidak runtut. Sistematika adalah cerminan cara berpikirmu. State of mind-mu.
Dari bagian pembukaan, analisa, sampai penutup, harus kau jalinkan secara runtut, saling menunjang dan mendukung. Kagak lucu bingiiittt jika analisamu nggak sesuai dengan kesimpulanmu.

Itu sama persis dengan kau berkata, “Aku sayang kamu,” padahal kau tak pernah bertemu dengannya kecuali di sosmed dan BBM sehingga kau tidak pernah bisa menyediakan bahumu secara nyata untuk jadi sandarannya. Sayang macam apa coba yang begitu? Jawab….!!! Eaaakkkk…..haaaa….

Ya, sistematiskanlah cara berpikirmu, runtutkanlah, mengalir teratur, runut, agar analisamu tersaji dengan jernih dan enak.

Saran tambahan, buatlah kerangka tulisan untuk membantumu meruntutkan analisasmu. Misal, di bagian pembukaan, poin-poin apa yang ingin kau sajikan. Lalu di bagian pembahasan, kau kutip sebuah teori, dilanjutkan dengan data-data lapangan, dan dilanjutkan lagi dengan pendapatmu pribadi. Di bagian kesimpulan, kau tegaskan inti dari semua analisamu itu.

Ya, buat corat-coret saja seputar plot tulisanmu itu mau kayak apa. Ini pasti sangat membantu membuatmu fokus dan sistematis.

5. Kesimpulan

Tentu, artikel harus ada kesimpulannya. Kesimpulan di sini tidak melulu harus berupa solusi lho ya. Ia bisa bersifat penegasan teori, atau data lapangan, atau motivasi tertentu terkait ide tulisanmu.

Misal, idemu tentang “korupsi itu adalah salah satu bentuk kekufuran”. Maka kau bisa memungkasi tulisanmu dengan kesimpulan begini:

Sudah jelas sekali berdasar tuturan Sayyid Sabiq di atas, bahwa kafir bukan semata tentang ingkar tauhid. Berbuat kerusakan di muka bumi juga merupakan bentuk praktik kekafiran. Dan tentu saja, korupsi adalah salah satu bagiannya. Jadi, masihkan Anda mau korupsi?

Begitu juga bisa, kan?

Bisa pula kau akhiri kesimpulan artikelmu dengan sebuah quote atau puisi bahkan. Yang terpenting, apa pun itu, kudulah selaras dengan bagian analisamu tadi. Misal:

Rasanya, cukup telak untuk menandaskan ucapan bijak Einstein di sini bahwa “Ilmu tanpa agama hanya akan menjadi kebutaan dan agama tanpa ilmu hanya akan menjadi kelumpuhan.”

Banyak caranya, kan? Prinsipnya, kesimpulanmu harus selaras dengan analisamu.

Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Designed By Blogger Templates